GAJAH SUMATERA, INDONESIAN

Related Articles

Populasi gajah sumatera saat ini diestimasi hanya sekitar 1.700an. Populasi ini menurun sangat signifikan dimana populasi sebelumnya yaitu pada tahun 2007 adalah sekitar 2.800an. Data ini menunjukan bahwa gajah sumatera telah hilang.

Dampak kehilangan habitat diperburuk sebagai akibat dari fragmentasi habitat Gaveau et al ( 2007 ) telah menunjukkan bahwa ukuran fragmen rata-rata menurun seiring dengan hilangnya habitat disumatra barat daya. Ini juga telah ditunjukan dalam 3 kasus di Provinsi Riau. Fragmentasi adalah ancaman serius terhadap konservasi kebanyakan spesies. Hal ini ditunjukan, bahwa mamalia besar seperti Harimau, Badak, dan Gajah di TNBBS menghindari tepi hutan ( Kinnaird et al. 2003 ), mungkin karna perburuan, tekanan dan ketakutan manusia. HEC telah terbukti meningkat ditepi hutan pada baru-baru ini. Mungkin karna habitat alaminya terfragmentasi dan digantikan oleh lahan pertanian, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan orang-orang yang bertemu gajah, serta gajah yang menghadapi area pemukiman manusia.

Kondisi habitat yang ada saat ini memiliki keterkaitan dengan laju kehilangan populasi gjah liar yang umumnya dikarnakan pembunuhan dan kematian yang tidak dapat dijelaskan. Setidaknya telah dicatat 42 individu gajah mati pada tahun 2014. Dan 36 individu gajah mati pada tahun 2015. Laju kehilangan individu gajah tersebut menunjukan bahwa kepunahan spesies ini dialam liar diperkirakn hanya beberapa dekade mendatang bila tidak dilakukan intervensi terhadap kondisi ini. Upaya konservasi terhadap gajah sumatera baik hidup secara liar dihabitatnyadan gajah jinak yang hidup dibawah pemeliharaan manusia, harus dilakukan secara terintegrasi untuk lebih memahami status dan potensi untuk kelangsungan hidup sub populasi dan populasi secara menyeluruh disumatera.

Permasalahan gajah disumatera

Jumlah gajah dipenangkaran di sumatera diperkirakan sekitar 231 ekor, pad tahun 2018. Pada tahun 2007 jumlahnya adalah 303 ekor, terdiri dari 171 gajah jantan dan 190 gajah betina, bertempat di 6 pusat latihan gajah ( PLG ). Dan 9 unit pendayagunaan populasi gajah ( UPPG ) yang tersebar di 6 provinsi disumatera.

Proses yang diawali sejah tahun 1985 dalam penjinakan gajah dan pemeliharaan gajah, terutama di 6 pusat latihan gajah ( PLG ) di sumatera. Masih memiliki banyak keterbatasan dalam dalam pegembangan konservasi spesiesini sebagai bagian dari stock genetik gajah sumatera. Sebagai langkah awal dalam dalam mencapai tujuan dan arah pengembangan konservasi genetikannya, maka salah satu kebutuhan mendesak yang harus dilakukan adalah bagaimana mengoptimalkan kesejahterahan gajah jinak, melalui pengelolahan yang baikuntuk selanjutnya dapat mengembangkan nilai potensinya sebagai bagian dari populasi gajah sumatera dimasa depan.

Permasalahan kesehatan dan penyakit ( baik yang menular maupun tidak menular ) pada gajah jinak di pusat latihan gajah ( PLG ) di sumatera dan lembaga konservasi ( LK ) di indonesia hingga saat ini telah berkontribusi terhadap kematian yang berdampak terhadap menurunnya populasi gajah jinak. Pada sisi lainnya, angka kelahiran gajah jinak dipusat latihan gajah ( PLG ) di sumatera dan lembaga konservasi ( LK ). Maka sudah menjadi seharusnya bagi pengelola dan Dokter hewan yang terlibat dalam pengelolaan gajah jinak untuk memahami secara menyeluruh berbagai problem kesehatan dan penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular. Pada gajah jinak untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal terhadap gajah jinak baik secara individu maupun populasinya yang tidak hanya berorientasi dalam memberikan kesejahteraan namun lebih jauh harus ditunjukan terhadap mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk pelestarian sub spesies ini yang sudah diambang kepunahan.

Pengelolaan gajah sumatera jinak kedepan harus diarahkan terhadap peningkatan populasi gajah jinak dengan kwalitas genetis yang baik dengan perlakuan sederhana yang menciptakan situasi dan kondisi gajah jinak untuk dapat melakukan konsepsi, dengan harapan sub populasi gajah jinak dari masing-masing pusat latihan gajah ( PLG ) di sumatera dan lembaga konservasi ( LK ) di indonesia dan berkontribusi terhadap pertambahan populasi. Sebagai konsenkuensinya, dokter hewan dan mahout harus memiliki pengetahuan dan pemahaman penerapan berbagai metode reproduksi dan kebidanan gajah, perawatan dan pemenuhan nutrisi pada setiap tahap perkembangan bayi gajah dan pengendalian tingkah laku pada setiap perkembangan usia anak gajah.

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular stories